laporan Hubungan panjang berat ikan Kembung

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

 

Biologi perikanan sebagai dasar ilmu mengenai semua aspek-aspek yang berhubungan dengan studi biologi ikan. Setiap makhluk hidup mengalami pertumbuhan selama hidupnya dan melakukan reproduksi untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Begitu juga yang terjadi pada ikan, pertumbuhan tersebut dapat diamati secara fisik atau melalui pengamatan perkembangan jaringan. Pertumbuhan pada ikan dapat berlangsung lambat ataupun cepat.

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran bagian-bagian tubuh dan fungsi fisiologis tubuh. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal itu meliputi keturunan, pertumbuhan kelamin. Pertumbuhan ikan memiliki hubungan yang erat antara pertumbuhan panjang dan berat. Berdasarkan teori hubungan panjang berat dapat dinyatakan dengan rumus W= aLb, dalam hal ini “W” = berat, “a dan b”= konstanta, dan “L”= panjang ikan Dalam menduga pertumbuhan ikan di daerah tropis sulit dilakukan karena proses pertumbuahan ikan terus menerus sehingga tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat bentuk sirkulus pada sisik saja. Pertumbuhan ikan juga dapat menduga sebaran tingkat kematangan gonad ikan berdasarkan ukuran.

Praktikum mengenai pertumbuhan ikan, aspek reproduksi dan kebiasaan makanan ikan sangat berkaitan dengan program studi biologi perikanan di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Pentingnya pemahaman tentang biologi perikanan merupakan salah satu upaya untuk memberikan kemampuan dalam menganalisis dan menduga pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan. Sehingga dengan demikian dapat melihat jumlah stok yang ada di alam berdasarkan ukuran ikan

 

1.2 Tujuan kegunaan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui hubungan dan mempelajari faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan serta mengetahui hubungan panjang berat ikan. Sedangkan kegunaannya adalah sebagai informasi dasar dengan menambah wawasan mengenai hubungan panjang berat ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

DASAR TEORI

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Actinopterygii

Order               : Perciformes

Family             : Scombridae

Genus              : Rastrelliger

Species            : Rastrelliger kanagurta

Menurut Fujaya (2004), pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk mengendalikan perkembangan ikan.

Menurut Effendi (2002),berat dapat di anggap sebagai suatu fungsi dari panjang.hubungan panjang dan berat hamper mengikuti hukum kubik yaitu berat ikan sebagaipangkat tiga dari panjangnya.Tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda.

Ukuran ikan ditentukan berdasarkan panjang atau beratnya. Ikan yang lebih tua, umumnya lebih panjang dan gemuk. Pada usia yang sama, ikan betina biasanya lebih berat dari ikan jantan. Pada saat matang telur, ikan mengalami penambahan berat dan volume. Setelah bertelur beratnya akan kembali turun. Tingkat pertumbuhan ikan juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dilingkungan hidupnya (Poernomo, 2002 ).

 

 

 

Hubungan panjang dan berat ikan memberikan suatu petunjuk keadaan ikan baik itu dari kondisi ikan itu sendiri dan kondisi luar yang berhubungan dengan ikan tersebut.Di antaranya adalah keturunan,sex,umur,parasit,dan penyakit.Pada keturunan yang berasal dari alam sangat sulit di control ,untuk mendapatkan pertumbuhanyang baik, ikan mempunyai kecepatan pertumbuhan yang bebeda pada tingkatanumur dimana waktu muda pertumbuhannya cepat, dan ketika tua menjadi lamban,dan parasit dan penyakit sangat berpengaruh bila yang di serang adalah organ-organ pencernaan.Faktor luar yang utama ialah makanan dan suhu perairan Makanan dengan kandungan nutrisi yang baik akan mendukung pertumbuhan dari ikan tersebut sendangkan suhu akan mempengaruhi prodes kimiawi tubuh.(Effendiee,2002)

Abdul (1985), menyatakan bahwa pengukuran berat dari berbagai penimbangan ikan yang paling tepat adalah dengan menggunakan timbangan duduk dan timbangan gantung, adapan keuntungan yang dimiliki dari kedua timbangan ini adalah bekerjanya lebih teliti, pengaruh dari luar seperti angin dapat dikurangi, serta pendugaan pertama terhadap berat ikan yang ditimbang tidak perlu dilakukan, karena secara langsung dapat menunjukkan beratnya.

Pengukuran panjang ikan dalam penelitian biologi perikanan hendaknya mengikuti suatu ketentuan yang sudah lazim digunakan. Dalam hal ini panjang ikan dapat diukur dengan menggunakan sistem metrik ataupun sistem lainnya (Effendie, 1979). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam pengukuran tersebut nantinya akan diperoleh nilai b, yang ikut menentukan seimbang tidaknya antara berat dan panjang ikan. Dimana nilai b yang mungkin muncul adalah b<3, b=”3″>3.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PERCOBAAN

 

 

3.1 Waktu dan Tempat

            Adapun Waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum hubungan panjang berat ikan dan factor kondisi, yaitu pada pukul 10.00 – 12.00 WIB, di laboratorium kelautan dan perikanan unsyiah pada tanggal 28 April 2012.

3.2.  Alat dan Bahan

            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

NO

ALAT DAN BAHAN

JUMLAH

1

Ikan Sample

5 EKOR/orang

2

Timbangan

2 unit

3

Nampan

1 unit

4

Ember kecil

1 unit

5

Penggaris

1 unit / orang

6

Alat tulis

Seperlunya

 

3.3. Cara Kerja

            Adapun cara kerja yang dilakukan dalam praktikum Biologi Perikanan adalah sebagai berikut:

1.      Disiapkan ikan sampel sebanyak 40 ekor dan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan pengukuran.

2.      Dilakukan penimbangan bobot ikan dengan menggunakan alat timbangan.

3.      Ditentukan karakter apa saja yang ingin diukur ( karakter ini harus sama untuk semua spesies ikan).

4.      Setelah itu dilakukan pengukuran panjang total dengan menggunakan penggaris. Panjang total diukur mulai dari ujung mulut terdepan sampai bagian ujung ekor paling belakang. Pada saat pengukuran mulut, mulut ikan dalam keadaan terkatup.

 

5.      Dilakukan pengukuran panjang standart dengan menggunakan penggaris. Panjang standart diukur mulai dari ujung mulut sampai pangkal

 

 

 

6.      Dilakukan pengukuran panjang kepala dengan menggunakan penggaris. Panjang kepala diukur mulai dari ujung mulut sampai bagian belakang operculum.

7.      Dilakukan pengukuran panjang batang ekor dengan menggunakan penggaris. Panjang batang ekor diukur mulai dari bagian akhir sirip dubr sampai pertengahan pangkal sirip ekor.

8.      Dilakukan pengukuran tinggi badan dengan menggunakan penggaris. Tinggi badan diukur mulai dari bagian tubuh tertinggi (tidak termasuk tinggi sirip), biasanya posisinya persis didepan sirip punggung.

9.      Dilakukan pengukuran panjang moncong dengan menggunakan penggaris. Panjang moncong diukur mulai dari ujung moncong sampai awal lobang mata.

10.  Dilakukan pengukuran tinggi sirip dorsal dengan menggunakan penggaris. Tinggi sirip dorsal diukur mulai dari dasar jari-jari sampai ujung jari-jari terpanjang sirip dorsal.

11.  Dilakukan pengukuran panjang dasar sirip dorsal dengan menggunakan penggaris. Panjang dasar sirip dorsal diukur mulai dari dasar jari-jari pertama sampai jari-jari terakhir sirip punggung.

12.  Dilakukan pengukuran diameter mata dengan menggunakan penggaris. Diameter mata diukur mulai dari jarak paling lebar dari bola mata.

13.  Dilakukan pengukuran tinggi batang ekor menggunakan penggaris. Tinggi batang ekor  diukur mulai dari bagian terendah pangkal ekor.

14.  Dilakukan pengukuran panjang sirip dada dengan menggunakan penggaris. Panjang sirip dada diukur mulai dari dasar sampai ujung filament terpanjang jari-jari sirip dada.

15.  Dilakukan pengukuran panjang sirip perut dengan menggunakan penggaris. Panjang sirip perut diukur mulai dari dasar sampai ujung filament terpanjang jari-jari sirip perut.

16.  Dilakukan pengukuran tinggi kepala dengan menggunakan penggaris. Tinggi kepala diukur mulai dari pertengahan kepala sampai pertengahan dada.

17.  Dilakukan  pengukuran panjang sirip anal dengan menggunakan penggaris. Panjang sirip anal diukur mulai dari dasar sampai ujung filament terpanjang jari-jari sirip anal.

18.  Dicatat hasil pengukuran dan penimbangan yang diperoleh.

19.  Dilakukan perhitungan panjang dan berat menggunakan persamaan statistika.

 

 

 

 

3.4. Analisa Data

      Adapun langkah-langkah untuk menganalisa data Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi adalah sebagai berikut :

·      Dibuat tabel yang terdiri dari beberapa karakter yang telah di ukur sebelumnya:

a.      Tabulasi data Panjang dan berat ikan yang di ukur dalam program exell

b.      Data panjang dan berat masing-masing di (Ln), =LN(nilai panjang) dan =LN(nilai berat).

c.       Dibuat grafik scatter hubungan panjang berat dengan menggunakan nilai LN dari panjang dan berat

i.                    Di blok nilai LN panjang dan LN berat secara bersamaan,

ii.                  Pilih menu insert, pilih scatter with only marker

iii.                Grafik disesuaikan sesuai keinginan

iv.                Klik titik data grafik dengan klik kanan, pilih add trendline, pada menu trendline option pilih Linear, pilih atau contreng display equation on chat dan display R-squared value on chat, OK. Untuk mengetahui nilai a di exponenkan, = EXP(a), b dan koefisien determinasi (R2), close

v.                  Untuk mengetahui nilai koefesien korelasi (r) digunakan rumus =CORREL(blok seluruh data Ln panjang dan Ln berat) secara bersamaan.

d.      Dicari nilai berat yang di prediksi (Ws) dengan menggunakan rumus =a Lb

e.       Dicari nilai Residual dengan cara (LN) nilai berat prediksi Ws lalu dikurangi Ln berat, =LN(Ws)-LN W

f.       Dicari nilai varians residual dengan cara varian kan seluruh nilai residual, = VAR(nilai residual)

g.      Dicari nilai biass corretion dengan cara =exponen(0,5 x varian residual) x a x Lb atau =EXP(0,5 x varian residual) x Ws

h.      Dicari nilai faktor kondisi Fulton (K) dengan cara = (LN W x LN TL-3) x 100

i.        Dicari nilai berat relatif (Wr) dengan cara =(W/Ws) x100

j.        Dinampilkan grafik scatter perbandingan hubungan panjang berat yang teliti dan yang di prediksi

i.                    Diblok seluruh nilai panjang dan nilai berat

ii.                  Di pilih menu insert, scatter, scatter with only marker

iii.                Grafik disesuaikan sesuai keinginan

iv.                Klik pada data grafik dengan klik kanan, pilih select data, add, x= TL dan y= biass correction. Pilih OK.

v.                  Untuk memperindah grafik di klik kiri, format axis (adjust Sumbu X minimum sesuai keinginan (80), maksimal sesuai keinginan (110), major unit sesuai keinginan (10)).

vi.                Adjust sumbu Y di klik kiri, format axis (adjust sumbu Y minimum 5, maksimal 33, major unit 5).

vii.              Untuk menghapus garis klik pada garis, Delete horizontal line. Sehingga diperoleh grafik yang lebih bagus tampilannya.

 

 

 

 

 

4.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, ikan selar yang diukur panjang berat tubuhnya, memiliki ukuran yang berbeda-beda antara ikan yang satu dengan ikan yang lain. Adapun ukuran ikan yang terpanjang adalah 220 mm, dengan  beratnya adalah 120 gr, sedangkan ukuran yang terpendek adalah 175 mm dengan beratnya 60 gr. Ukuran antara berat dan panjang ikan tersebut bisa dikatakan  sudah seimbang.

Perbedaan ukuran berat dan panjang antara tiap ikan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang telah dikemukakan oleh Fujaya (1999), dimana ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam ini sulit untuk dilakukan pengontrolan, sedangkan faktor luar mudah untuk pengontrolannya.

Adapun yang termasuk faktor dalam tersebut adalah faktor keturunan, dimana faktor ini mungkin dapat dikontrol dalam suatu kultur, salah satunya dengan mengadakan seleksi yang baik bagi pertumbuhannya sebagai induk. Kemudian faktor jenis kelamin, kemungkinan tercapainya kematangan gonad untuk pertama kali cenderung mempengaruhi pertumbuhan, yang menjadi lambat karena sebagian makanan tertuju pada perkembangan gonad tersebut. Untuk faktor umur, pertumbuhan cepat terjadi pada ikan yang masih muda, sedangkan ikan yang sudah tua umumnya kekurangan makanan berlebih untuk pertumbuhan, karena sebagian besar digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan pergerakan. Terakhir faktor parasit dan penyakit dapat mempengaruhi pertumbuhan jika alat pencernaan atau organ vital lainnya terserang, sehingga efisiensi makanan yang berguna bagi pertumbuhan berkurang. Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah makanan, dalam hal ini makanan adalah faktor yang paling penting karena dengan adanya makanan berlebih dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lebih pesat. Faktor luar lain yang mempengaruhi yaitu kualitas air, misalnya suhu, oksigen terlarut dan karbondioksida.

Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah makanan, dalam hal ini makanan adalah faktor yang paling penting karena dengan adanya makanan berlebih dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lebih pesat. Faktor luar lain yang mempengaruhi yaitu kualitas air, misalnya suhu, oksigen terlarut dan karbondioksida.

 

Dalam suatu pengukuran pertambahan panjang dan berat ikan, terdapat adanya nilai b yang ikut menentukan dalam pengukuran tersebut. Berdasarkan dari hasil perhitungan, nilai b yang diperoleh untuk pengukuran ikan kembungadalah 0,886. Nilai tersebut dapat dikategorikan lebih kecil dari 3. Hal demikian sesuai dengan pernyataan dari Effendie (1979), yang menyatakan ada kemungkinan 3 nilai yang muncul dalam pengukuran panjang dan berat ikan, yaitu b<3, b=”3″>3. Adapun untuk b<3 b=”3″>3 menunjukkan bahwa pertambahan panjang tidak secepat pertambahan berat. Berdasarkan pernyataan tersebut, pada hasil yang diperoleh untuk pengukuran ikan bandeng nilai b=3.

            Hasilnilai b yang didapatkansetelahmenganalisa data adalahsebagaiberikut :

                                                                                 B= 0,8869

         Dari hasil nilai Bdiatasmakadapatkitakatakananilaibobotikantersebuttermasukkedalamallometrikfaktor yang mempengaruhinyaadalahbisasajaikan yangdijadikansampelsudahtidaksegar. Karenajikaikan yang sudah lamadisimpandapatmengakibatkanturunnyaberatbadanikantersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, R., 1985. Ekologi Ikan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang

Alamsyah, Z. 1974. Ikhtiologi Sistematika (Ichtyologi I). PPM. PT. ITB. Bogor. 183 halaman.

Djuanda T., 1981. Dunia Ikan . Armico . Bandung . 191 halaman.

Efendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius; Yogyakarta.

Effendie, I.M., 1978. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan IPB, Bogor.

Fujaya, Y., 1999Fisiologi ikan. Rineka Cipta; Jakarta.

Rancangan percobaan

 

RANCANGAN PERCOBAAN

Dalam statistika, perancangan percobaan atau rancangan percobaan adalah kajian mengenai penentuan kerangka dasar kegiatan pengumpulan informasi terhadap objek yang memiliki variasi (stokastik), berdasarkan prinsip-prinsip statistika. Bidang ini merupakan salah satu cabang penting dalam statistika inferensial dan diajarkan di banyak cabang ilmu pengetahuan di perguruan tinggi karena berkaitan erat dengan pelaksanaan percobaan (eksperimen).

Perancangan percobaan dapat dikatakan sebagai “jembatan” bagi peneliti untuk bergerak dari hipotesis menuju pada eksperimen agar memberikan hasil yang valid secara ilmiah. Dengan demikian, perancangan percobaan dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen dalam metode ilmiah.

Kajian perancangan percobaan adalah pelaksanaan percobaan (eksperimen) terkendali. Dalam percobaan semacam ini, peneliti memberikan sejumlah tindakan (dapat juga “pelabelan” sesuai dengan ciri-ciri objeknya, diistilahkan sebagai perlakuan atau treatment) pada sejumlah objek yang memiliki variasi pada derajat tertentu. Objek ini diistilahkan sebagai satuan percobaan atau experimental unit, yang dapat berwujud hewan, tumbuhan, manusia, atau barang. Apabila perlakuan yang sama dikenakan terhadap sejumlah objek, objek-objek ini merupakan ulangan (replicate) dari perlakuan tadi. Pengamatan dilakukan terhadap sejumlah karakteristik yang diminati sang peneliti terhadap objek-objek tadi. Hipotesis statistis ditentukan (“hipotesis nol”) untuk memaknai pengaruh perlakuan-perlakuan yang diberikan terhadap hasil pengamatan (data) yang ada.

  1. A.   Prinsip-prinsip Pokok Rancangan Percobaan

Agar percobaan dapat memberi fakta yang dapat diolah dan digunakan untuk menarik kesimpulan yang sahih maka di dalam merancang, suatu percobaan harus dipertimbangkan tiga prinsip pokok, yaitu pengulangan (replication), pengacakan (randomization), dan pengendalian lokal (local control) / pengelompokan.

  1. 1.    Pengulangan

Pengulangan adalah percobaan dasar yang dilakukan lebih dari satu kali. Pengulangan berfungsi sebagal berikut:

a. Menghasilkan nilai dugaan bagi galat percobaan.

b. Meningkatkan ketepatan percobaan

c. Memperluas daya cakup kesimpulan, dan

d. Mengendalian ragam galat percobaan.

Dalam pengujian hipotesis tentang ada tidaknya perbedaan pengaruh perlakuan dibutuhkan nilai dugaan bagi ragam galatpercobaan. Selain itu, dugaan juga diperlukan untuk membentuk selang kepercayaan bagi nilai tengah perlakuan. Nilai dugaan bagi ragam galat percobaan tidak dapat diperoleh pada percobaan yang dilakukan tanpa ulangan, kecuali pada keadaan tertentu. Oleh sebab itu, ulangan sangat diperlukan untuk mendapatkan dugaan bagi ragam galat percobaan.

Upaya memperbanyak ulangan sudah tentu akan memperbaiki hasil percobaan. Namun, memperbanyak ulangan juga berarti meningkatkan korbanan berupa waktu, biaya, tenaga, dan bahan percobaan. Sedangkan sumber daya tersedia dalam jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu, peningkatan ulangan hanya dapat dilakukan sampai batas tertentu sesuai dengan kendala yang dihadapi. Selain itu, perlu dipertimbangkan berapa besar peningkatan informasi yang diperoleh dari penambahan ulangan. Bila peningkatan informasi yang diperoleh tidak seimbang dengan jurnlah korbanan yang telah dikeluarkan, berarti peningkatan ulangan tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, bila ulangan tidak ditingkatkan maka keandalan kesimpulan yang ditarik dari hasil percobaan tidak dapat dipertahankan. Pada kondisi ini ulangan perlu diperbanyak. Yang jelas semakin kecil keragaman populasi, semakin sedikit ulangan yang dibutuhkan. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat ketepatan yang diinginkan semakin banyak ulangan yang dibutuhkan.

  1. 2.    Pengacakan

Pengacakan adalah suatu usaha untuk mengalokasikan perlakuan kepada setiap satuan percobaan tanpa pilih kasih. Pengacakan berfungsi:

  1. Menghindarkan bias yaitu menjamin penduga tidak bias untuk nilai tengah perlakuan dan galat percobaan;
  2.  Menjamin adanya kebebasan antarpengamatan;
  3.  Mengatasi sumber keragaman yang diketahui namun tidak dapat diduga pengaruhnya

Pengacakan menjamin pemberian kesempatan yang sama kepada setiap satuan percobaan untuk mendapat perlakuan tertentu. Dengan pengacakan dapat dipastikan bahwa kita akan memperoleh nilai dugaan yang tak bias bagi ragam galat percobaan, nilai tengah, dan beda nilai tengah perlakuan. Disarankan untuk melakukan pengacakan walaupun tidak ada kemungkinan bias yang serius akibat tidak adanya pengacakan. Pengacakan akan menghindari kejadian yang mungkin berbeda dari harapan. Pengacakan dapat dilakukan dengan undian ataumenggunakan bilangan teracak.

  1. 3.    Pengelompokan

Pengelompokan adalah teknik yang digunakan untuk meningkatkan ketelitian percobaan. Fungsi pengelompokan:

  1. Meningkatkan presisi. Pengelompokan meningkatkan presisi (sensitivitas percobaan dalam mendeteksi perbedaan) dengan memisahkan keragaman antarkelompok (sumber keragaman yang dapat diduga pengaruhnya) dari galat percobaan sehingga galat percobaan dapat diperkecil. Dalam hal ini perlakuan dibandingkan pada kondisi yang hampir sama.
  2. Meningkatkan informasi. Pengelompokan dapat meningkatkan informasi karena kelompok dapat diletak-kan pada tempat, waktu, dan bahan yang berbeda.

Pengelompokan dilakukan kalau terdapat sumber keragaman yang dapat diketahui dan pengaruhnya dapat diperkirakan. Bahan percobaan disusun ke dalam kelompok-kelompok satuan percobaan yang relatif seragam.

PERANCANGAN PERCOBAAN YANG BAIK

  1. Kesederhanaan (symplicity). Perlakuan dan metode semudah mungkin dengan tetap mempertahankan obyektivitas.
  2. Derajat ketepatan (degree of precision); Memberi peluang mengukur perbedaan yang ada pada perlakuan-perlakuan menurut derajat ketepatan yang diinginkan peneliti.
  3. Ketiadaan galat sistematis. Harus dirancang agar setiap unit percobaan menerima perlakuan dengan peluang sama besar agar hasilnya tidak bias.
  4. Kisaran keabsahan kesimpulan selebar-lebarnya. Peningkatan kisaran keabsahan kesimpulan dapat diperoleh melalui:
    1. memperbanyak ulangan menurut waktu atau ruang.

b.   Merancang perlakukan secara faktorial (berbagai taraf perlakuan atau tingkat faktor lainnya)

  1. Kalkulasi derajat ketidakpastian (degree of uncertainty). Memungkinkan peneliti menghitung kemungkinan (peluang) terjadinya hasil pengamatan yang menyimpang.

 

crop circle ( lingkaran tanaman )

Lingkaran tanaman (bahasa Inggris:Crop circles) adalah suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman, seringkali hanya dalam waktu semalam. Fenomena ini pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir 1970, dengan bentuk pola-pola lingkaran sederhana. Pada masa-masa setelahnya, pola ini cenderung bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada lingkaran semata. Namun karena mengacu pada asal-usulnya, maka istilah Crop Circles ini masih dipertahankan.

Mereka yang mempelajari fenomena Crop Circles ini sering disebut juga dengan istilah “cerealogis”, dan ilmu yang mempelajari fenomena ini disebut dengan cereolog. Para Cerealogis kemudian mengembangkan istilah baru untuk fenomena ini, yaitu agriglyph.

Fenomena Crop Circles seringkali dikait-kaitkan dengan isu UFO atau mahluk luar angkasa. (http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkaran_tanaman)

BEBERAPA GAMBAR crop circle ( lingkaran tanaman )

Ada beberapa sumber menyatakan bahwa

  • CROP circle disebabkan oleh pesawat ruang angkasa yang mendarat. (http://id.wikipedia.org/wiki/Benda_Terbang_Aneh )
  • Sebenernya sulit untuk percaya kalo ini perbuatan manusia. Cukup banyak yang beranggapan, bahwa apa yang disebut lingkaran ladang gandum itu tidak lebih dari perbuatan iseng seseorang. Menurut ilmuwan Anderro dari Inggris yang telah menyelidiki sekaligus meneliti fenomena tersebut selama 17 tahun lamanya, bahwa ada sekitar 80% lingkaran ladang gandum itu merupakan buatan manusia.( http://misteridunia.wordpress.com/2008/10/02/misteri-crop-circle/ )
  • Menurut fisikawan dari Universitas Michigan, AS yakni Dr.Delon Smith, bahwa perubahan musim panas tidak menentu, angin tornado adalah sebab utama yang menyebabkan lingkaran aneh itu. Melalui risetnya dia mendapati, bahwa sejumlah besar lingkaran aneh di ladang gandum yang muncul di sisi gunung atau daerah yang berjarak 60-70 km dari gunung, dimana tempat seperti ini adalah tempat yang mudah sekali membentuk angin tornado.( http://misteridunia.wordpress.com/2008/10/02/misteri-crop-circle/ )

 

Apapun pendapat  tentang CROP CIRCLE,yang terpenting adalah itu sebuah peristiwa alam yang luar biasa,dimana tidak dapat masuk ke pikiran sehat kita semua.

CROP CIRCLE adalah suatu kuasa Tuhan Yang Maha Esa,dimana Tuhan ingin menunjukkan kekuasaan-Nya kepada kita semua.

 

 

terima kasih,,,,,,,,

 

referensi :